Categories
Uncategorized

Proses Penambangan Bahan Galian C di Indonesia

Bahan galian C adalah bahan galian yang tidak termasuk dalam bahan galian strategis dan bahan galian golongan B. Jenis bahan galian C merupakan jenis bahan galian yang paling banyak ditambang di Indonesia, dengan volume mencapai sekitar 90% dari total volume penambangan bahan galian C di Indonesia.

Bahan galian C memiliki berbagai macam jenis, antara lain:

  • Batu kapur
  • Pasir
  • Gamping
  • Batu bara
  • Sirtu
  • Bijih besi
  • Nikel
  • Tembaga

Proses penambangan bahan galian C di Indonesia dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu:

  • Penambangan terbuka
  • Penambangan bawah tanah

Penambangan Terbuka

Penambangan terbuka adalah proses penambangan yang dilakukan dengan membuka permukaan bumi untuk mengambil bahan galian. Proses ini biasanya digunakan untuk menambang bahan galian yang terletak di dekat permukaan bumi, seperti batu kapur, pasir, dan sirtu.

Proses penambangan terbuka terdiri dari beberapa tahapan, yaitu:

  • Persiapan: Tahap ini meliputi pembersihan lahan, pembangunan infrastruktur, dan pengadaan peralatan.
  • Penggalian: Tahap ini dilakukan untuk mengambil bahan galian dengan menggunakan alat berat, seperti buldoser, ekskavator, dan truk.
  • Pemindahan: Tahap ini dilakukan untuk memindahkan bahan galian dari lokasi penambangan ke tempat pengolahan.
  • Pemulihan:┬áTahap ini merupakan bagian dari Penerapan Good Mining Practice dan dilakukan untuk memulihkan lingkungan yang telah rusak akibat kegiatan penambangan.

Penambangan Bawah Tanah

Penambangan bawah tanah adalah proses penambangan yang dilakukan dengan membuat terowongan di bawah permukaan bumi untuk mengambil bahan galian. Proses ini biasanya digunakan untuk menambang bahan galian yang terletak di kedalaman yang cukup, seperti batubara, bijih besi, dan nikel.

Proses penambangan bawah tanah terdiri dari beberapa tahapan, yaitu:

  • Persiapan: Tahap ini meliputi penggalian lubang bukaan, pemasangan penyangga, dan pembangunan infrastruktur.
  • Eksplorasi: Tahap ini dilakukan untuk mencari dan menemukan bahan galian yang akan ditambang.
  • Pemboran: Tahap ini dilakukan untuk membuat lubang-lubang untuk mengeluarkan bahan galian dari dalam bumi.
  • Pengangkutan: Tahap ini dilakukan untuk memindahkan bahan galian dari lokasi penambangan ke tempat pengolahan.
  • Pemulihan: Tahap ini dilakukan untuk memulihkan lingkungan yang telah rusak akibat kegiatan penambangan.

Kelebihan dan Kekurangan

Kedua jenis proses penambangan tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Penambangan terbuka memiliki kelebihan yaitu biaya yang relatif lebih murah, namun memiliki dampak lingkungan yang lebih besar. Penambangan bawah tanah memiliki kelebihan yaitu dampak lingkungan yang lebih kecil, namun memiliki biaya yang relatif lebih mahal.

Pemilihan jenis proses penambangan yang akan digunakan harus disesuaikan dengan berbagai faktor, seperti jenis bahan galian yang akan ditambang, kondisi geologis wilayah tambang, dan faktor-faktor lainnya.

Pemanfaatan Bahan Galian C

Bahan galian C memiliki berbagai macam pemanfaatan, antara lain:

  • Batu kapur digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan semen, kapur bangunan, dan pupuk.
  • Pasir digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan beton, bata, dan keramik.
  • Gamping digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan semen, kapur bangunan, dan pupuk.
  • Batubara digunakan sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik dan industri.
  • Sirtu digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan beton, jalan, dan jembatan.
  • Bijih besi digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan baja.
  • Nikel digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan baja tahan karat dan baterai.
  • Tembaga digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan kabel, pipa, dan peralatan elektronik.

Pemanfaatan bahan galian C di Indonesia masih tergolong rendah, yaitu sekitar 40% dari total volume produksi. Beberapa hal menyebabkan kendala ini sebagai berikut:

  • Kurangnya infrastruktur dan teknologi
  • Ketersediaan bahan baku yang tidak merata
  • Kurang terintegrasinya industri hilir

Pemerintah Indonesia telah berupaya untuk meningkatkan pemanfaatan bahan galian C di Indonesia melalui berbagai kebijakan, antara lain:

  • Pengembangan infrastruktur dan teknologi
  • Pemetaan dan pengembangan potensi bahan galian
  • Pengembangan industri hilir

Upaya-upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan pemanfaatan bahan galian C di Indonesia, sehingga dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi perekonomian nasional.